Pada kemasan produk impor, lambang dan nomor biasanya tercetak berdempetan dalam ruang beberapa sentimeter. Mata pembaca lalu menjumlahkannya menjadi satu kesan tunggal: "produk ini sudah lolos semuanya". Yang lebih berguna justru memisahkannya — karena tiap tanda hanya menjawab satu pertanyaan, dan pertanyaan itu tidak sama.
Tiga penerbit, tiga pertanyaan
Cara tercepat membedakan ketiganya adalah dengan bertanya: siapa yang menerbitkan tanda ini, dan apa yang sebenarnya ia nilai? Penerbit yang berbeda bekerja dengan ketentuan yang berbeda, jadi jawaban mereka tidak bisa saling dipinjam.
Sertifikat halal
Diterbitkan: BPJPH, dengan dasar ketetapan dari MUI
Menjawab pertanyaan kehalalan: bahan dan proses produksinya sudah ditetapkan memenuhi ketentuan halal. Sertifikat untuk lini konsumsi yang kami salurkan diterbitkan 19 November 2024 dengan nomor ID00410020764430724, dan atas nama produsennya di Jepang — bukan atas nama penjual di Indonesia.
Nomor izin edar BPOM
Diterbitkan: BPOM RI
Menjawab pertanyaan peredaran: produk sudah terdaftar dan boleh diedarkan di Indonesia, dalam kategori tertentu, dengan label yang sudah dinilai. Dua huruf di depan nomornya menandai kategori itu — ML untuk pangan olahan impor, NA untuk notifikasi kosmetik.
GMP
Diterbitkan: Lembaga penilai di negara tempat pabrik berdiri
Menjawab pertanyaan cara kerja: apakah pabriknya berproduksi mengikuti standar tata cara yang baku. Perhatikan satu hal penting — yang dinilai fasilitasnya, bukan satuan produknya. Tidak ada "nomor GMP" yang tercetak untuk tiap sachet.
Beda sertifikat halal dan BPOM, duduk perkaranya
Inilah dua tanda yang paling sering dianggap satu. Keduanya memang sama-sama diterbitkan lembaga negara di Indonesia, dan keduanya sama-sama berupa nomor panjang pada kemasan — tetapi yang mereka periksa berlainan. Sertifikat halal menilai kehalalan bahan dan prosesnya. Nomor izin edar menilai kelayakan produk itu diedarkan di Indonesia beserta keterangan labelnya.
Akibat praktisnya: satu nomor tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan yang lain. Melihat nomor izin edar pada kemasan tidak memberi tahu Anda apakah produk itu tercakup sertifikat halal, dan melihat lambang halal tidak memberi tahu Anda apakah izin edarnya masih berlaku. Dua pemeriksaan terpisah, dua pangkalan data terpisah.
GMP berdiri di tempat yang lain lagi
Dibanding dua tanda tadi, GMP paling sering disalahpahami — sebab ia bukan izin, bukan notifikasi, dan tidak diterbitkan oleh lembaga Indonesia. GMP adalah penilaian atas cara sebuah pabrik berproduksi: alur kerjanya, kebersihannya, pencatatannya. Karena itu ia melekat pada fasilitas, bukan pada satuan barang. Uraian lengkap tentangapa yang diaudit dalam GMP kami tulis terpisah supaya tidak diulang di sini.
Konsekuensinya sederhana namun jarang disebut penjual: kalimat "diproduksi di fasilitas tersertifikasi GMP" adalah keterangan tentang pabrik. Ia tidak berbicara tentang isi satu sachet tertentu, dan tentu tidak berbicara tentang hasil apa pun pada pemakainya.
Apa yang tidak dijamin ketiganya
Bagian ini sengaja ditulis, karena di sinilah paling banyak kesimpulan melompat jauh dari apa yang tertulis:
- Bukan keterangan tentang apa yang akan Anda rasakan. Ketiga tanda itu menilai bahan, label, dan cara produksi — tidak satu pun menilai pengalaman pemakainya.
- Bukan jaminan atas barang yang ada di tangan seorang penjual. Tanda menempel pada produk yang terdaftar; yang perlu Anda cocokkan adalah nomor pada kemasan di tangan Anda dengan data resminya.
- Bukan keterangan harga. Tidak ada hubungan antara ketiga tanda itu dan angka yang ditawarkan kepada Anda; penawaran jauh di bawah pricelist resmi tetap patut ditanyakan lebih dulu.
- Bukan pengganti satu sama lain. Produk yang terdaftar di BPOM tidak dengan sendirinya tercakup sertifikat halal, dan sertifikat halal tidak menggantikan izin edar.
Cakupannya tidak otomatis sama untuk seluruh katalog
Satu hal yang perlu dinyatakan terang-terangan: sebuah sertifikat berlaku untuk produk yang memang disebutkan di dalamnya, bukan untuk semua barang yang bermerek sama. Dalam rangkaian yang kami salurkan, Sensei Suru adalah produk oles yang ternotifikasi sebagai kosmetik — kategorinya berbeda dari lini konsumsi, dan cakupan halalnya pun berbeda. Menyamaratakan keduanya keliru, meski keduanya berdiri di rak yang sama.
Karena itu kami tidak pernah menuliskan status sertifikasi sebagai klaim menyeluruh. Status tiap tanda dicantumkan per produk, apa adanya, padacakupan sertifikasi tiap produk — termasuk ketika jawabannya "tidak tercakup". Ringkasan lini wellness AFC yang kami salurkan juga ada di beranda, lengkap dengan nomor izin edar masing-masing supaya bisa Anda cocokkan sendiri. Pertanyaan yang paling sering muncul soalstatus halal Sensei Suru kami jawab langsung di halaman tanya-jawab.
Periksa Tanda Satu Per Satu
Nomor izin edar dan status sertifikasi tiap produk kami pajang terbuka — silakan dicocokkan dengan kemasan yang ada di tangan Anda.
Cara Mencocokkan Data ResminyaMasih soal nomor panjang di kemasan: kami terangkan pulaarti huruf pada izin edar beserta alasan kenapa huruf itu tidak bisa dipakai menyimpulkan mutu.
